Sabtu, 01 Juli 2017

Skak Mat ! setetelah SBY dan Jokowi, Hotman Paris Sarankan Ruhut Mulai Cari Capres 2019 untuk Dipuja-puji

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea memberikan saran kepada Ruhut Sitompul, pengacara yang juga politisi dan kerap pindah-pindah partai politik.
"Kepada lae, saya teman sekampung Ruhut Sitompul sudah waktunya sekarang mulai memasang panca indera untuk bisa memprediksi siapa kira-kira pemenang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden di Pilpres tahun 2019," kata Hotman Paris dalam keterangannya, Senin (19/6/2017).


MASYAALLOH..!! ANDA AKAN MENETESKAN AIR MATA SETELAH BACA INI...!!! SURAT DARI PEJUANG HAMAS PALESTINA DI GAZA UNTUK INDONESIA...BANTU SEBARKAN DEMI SAUDARA KITA

MASYAALLOH..!! ANDA AKAN MENETESKAN AIR MATA SETELAH BACA INI...!!! SURAT DARI PEJUANG HAMAS PALESTINA DI GAZA UNTUK INDONESIA...BANTU SEBARKAN DEMI SAUDARA KITA

Islamiqpos - Kenapa saya memilih kirim surat ini untuk kalian di Indonesia? Tetapi bila kalian tetaplah ajukan pertanyaan kepadaku, mungkin saja satu – satunya jawaban yang saya punyai yaitu lantaran negeri kalian berpenduduk muslim paling banyak diatas bumi ini, bukanlah sekian saudaraku?
Waktu saya menunaikan beribadah haji satu tahun lebih silam, saat pulang dari melempar jumrah, saya pernah berteman dengan salah seseorang aktivis dakwah dari jama’ah haji asal Indonesia, ia menyampaikan kepadaku, tiap-tiap th. musim haji ada sekitaran 205 ribu jama’ah haji datang dari Indonesia datang ke Baitullah ini. Wah, sungguh jumlah angka yang begitu fantastis serta bikin saya berdecak mengagumi akan.

Lantas saya mengataka padanya, saudaraku, bila jumlah jama’ah haji asal Gaza mulai sejak th. 1987 hingga saat ini dikombinasi, itu belum dapat menyamakan jumlah jama’ah haji dari negara kalian dalam 1 musim haji saja. Walau sebenarnya jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat di banding kalian. Waaah tentu duit kalian begitu banyak, terlebih menurut sahabatku itu ada 5% dari rombongan itu yang menunaikan beribadah haji yang ke dua kalinya, Subhanallah.
Wahai saudaraku di Indonesia, pernah saya berkhayal dalam hati, mengapa kami tak dilahirkan di negeri kalian saja. Tentu begitu indah serta mempesona. Negeri kalian aman, kaya, serta subur, setidaknya itu yang saya kenali tentang negeri kalian.

Tentu ibu – ibu di sana sangat gampang menyusui bayi – bayinya, susu formula bayi tentu dengan gampang kalian peroleh di toko – toko serta beberapa wanita hamil kalian mungkin saja dengan gampang bersalindi tempat tinggal sakit yang mereka kehendaki. Ini yang membuatku iri padamu saudaraku., tak seperti di negeri kami ini. Seringkali tentara Israel menahan mobil ambulance yang bakal mengantarkan istri kami melahirkan dirumah sakit yang lebih komplit alatnya di daerah Rafah. Hingga istri kami sangat terpaksa melahirkan diatas mobil, saudaraku!

Susu formula bayi yaitu barang langka di Gaza mulai sejak kami diblokade 2 th. waktu lalu, tetapi istri kami tetaplah menyusui bayi – bayinya serta menyapihnya sampai 2 th. lamanya, walaupun kadang-kadang untuk membuat lancar ASI mereka, istri kami ikhlas minum air rendaman gandum.
Tetapi, kenapa di negeri kalian katanya banyak masalah pembuangan bayi yg tidak jelas siapa bapak serta ibunya. Kadang-kadang diketemukan mati di parit – parit, selokan, serta tempat sampah. Itu yang kami bisa dari info di tv.

Serta yang bikin saya terperanjat serta merinding, nyatanya negeri kalian yaitu negeri yang paling tinggi masalah arbosinya untuk lokasi Asia. Astaghfirullah. Ada apa dengan kalian? Apakah dikarenakan di negeri kalian tak ada konflik bersenjata seperti kami di sini, hingga orang dapat lakukan hal hina seperti itu?

Kelihatannya kalian belum menghormati makna satu nyawa. Memanglah nyaris sehari-hari di Gaza mulai sejak penyerangan Israel, kami melihat bayi – bayi kami mati. Tetapi, tidaklah di selokan – selokan atau got – got apalagi ditempat sampah. Mereka mati syahid saudaraku! Mati syahid lantaran serangan roket Israel! Kami dapatkan mereka tidak bernyawa lagi di pangkuan ibunya, dibawah puing – puing bangunan tempat tinggal kami yang hancur oleh serangan Zionis Israel. Saudraku, untuk kami nilai seseorang bayi adaalh aset perjuangan kami pada penjajah Yahudi. Mereka yaitu mata rantai yang bakal menyambung perjuangan kami memerdekakan negeri ini.

Butuh kalian mengerti, sejak serangan Israel tanggal 27 Desember 2009 tempo hari, saudara – saudara kami yang syahid hingga 1400 orang, 600 orang salah satunya yaitu anak – anak kami. Tetapi mulai sejak penyerangan itu juga sampai hari ini, kami menyambut lahirnya 3000 bayi baru di jalur Gaza, serta subhanallah umumnya mereka yaitu anak laki – laki serta banyak yang kembar, Allahu Akbar!
Wahai saudaraku di
Indonesia,
negeri kalian subur serta makmur, tanaman apa sajakah yang kalian tanam akan tumbuh serta berbuah, akan tetapi mengapa di


negeri kalian masihlah ada bayi yang kekurangan gizi, menderita busung lapar. Apa lantaran susah mencari rizki di sana? apa negeri kalian di blokade juga?
Butuh kalian kenali saudaraku, tak ada satupun bayi di Gaza yang menderita kekurangan gizi, terlebih hingga mati kelaparan, walaupun telah lama kami diblokade. Sungguh kalian sangat manja! Saya yaitu pegawai tata usaha di kantor pemerintahan HAMAS sudah 7 bln. ini belum terima upah bulanan saya. Namun Allah SWT yang bakal mencangkupkan rizki untuk kami.

Butuh kalian kenali juga, bln. ini saja ada sekitaran 300 gunakan pemuda barusan melangsungkan pernikahan. Ya mereka menikah di sela – sela serangan agresi Israel. Mereka mengucapkan akad nikah di antara bunyi letupan bom serta peluru, saudaraku. Serta perdana menteri kami Ust. Isma’il Haniya memberikan santunan awal pernikahan untuk semuanya keluarga baru itu.
Wahai saudaraku di Indonesia, terkadang sayapun iri, kalau saya dapat rasakan pengajian atau

halaqah pembinaan di negeri antum (anda). Seperti yang dikisahkan rekan saya, program pengajian kalian tentu bagus, banyak kitab mungkin saja kalian yang sudah baca. Serta banyak buku – buku tentu telah kalian baca. Kalian juga bersemangat kan? itu lantaran kalian miliki saat.
Kami tak memiliki saat yang banyak di sini. Satu jam, ya satu jam itu yaitu saat yang dibanderol untuk kami di sini untuk halaqoh. Setelah itu kami mesti terjun ke lapangan jihad, sesuai sama pekerjaan yang didapatkan pada kami. Kami di sini begitu menanti- nantikan waktu halaqah itu walaupun cuma 1 jam. Pasti kalian bersukur. Kalian miliki saat untuk menegakkan rukun – rukun halaqah, seperti ta’aruf, tafahum serta takaful di sana.

Hafalan antum tentu semakin banyak dari pada kami. Semuanya pegawai serta pejuang hamas di sini harus mmenghafal Surah Al – Anfal sebagai nyanyian perang kami, saya menghafal di sela – sela wkatu istirahat perang, bagaimana dengan kalian?
Akhir desember kemarin, saya menghadiri acara wisuda penamatan hafalan 30 Juz anakku yang pertama. Ia adalah 1 diantara 100 anak yang tahun ini menghafal Al – Qur’an serta umurnya baru 10 th..

Saya meyakini anak – anak kalian tambah lebih cepat menghafal Al-Qur’an daripada anak – anak kami di sini. Di Gaza tak ada SDIT seperti ditempat kalian yang menebar seperti jamur di musim hujan. Di sini anak – anak belajar di antara puing – puing reruntuhan gedung yang hancur, yang tanahnya telah di ratakan, di atasnya di beri sebagian helai daun kurma.

Ya, ditempat itu mereka belajar, saudaraku. Bunyi setoran hafalan Qur’an mereka bergemuruh di antara bunyi – bunyi senapan tentara Israel. Ayat – ayat jihad paling cepat mereka hafal. Lantaran benar-benar di depan mereka tafsirnya, segera mereka rasakan. Oh iya, kami mesti berterima kasih pada kalian semuanya, lihat solidaritas yang kalian tunjukkan pada orang-orang dunia. Kami melihat tindakan demo – demo kalian. Subhanallah, kami begitu terhibur, lantaran kalian rasakan apa yang kami rasakan di sini.

Memanglah banyak orang-orang dunia yang menangisi kami disinim termasuk juga kalian yang di Indonesia. Tetapi, bukanlah tangisan kalian yang kami perlukan, saudaraku. Biarkanlah butiran air matamu yaitu catatan bukti akhirat yang dicatat Allah sebagai bukti ukhuwah kalian pada kami. Do’a – do’a serta dana sudah kami rasakan faedahnya.
Oh iya, hari makin larut, sebentar lagi yaitu giliran saya melindungi kantor, tugasku untuk menanti bila ada telpon serta fax yang masuk. Insya Allah, kelak saya menginginkan sambung dengan surat yang lain lagi.
Salam untuk semuanya pejuang –pejuang Islam, ulama – ulama serta calon Mujahidin – mujahidin kalian.
*Abdullah Gaza
Semua isi surat ini sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dari Bahasa Arab, yang di kirim oleh seseorang bernama Abdullah Al-Ghaza yang mengakui dari Gaza city-Jalur Gaza lewat surat elektronik serta artikel diterbitkan oleh Buletin Islami.


Sumber : http://www.kabarsehatselalu.com/

Jumat, 30 Juni 2017

Film Telah Ungkap Mana yang Sebenarnya “Sahabat Masyarakat”, Polri atau TNI?


Film “Kau adalah Aku yang Lain” benar-benar bikin geger. Meski berdurasi hanya beberapa menit, isi film itu diperburuk oleh penayangannya pada masa sakral bagi komunitas Muslim. Tambahan lagi, film itu dipublikkan melalui akun media sosial resmi Polri, serta diperparah oleh penghargaan yang dianugerahkan kepadanya. Empat hal itu–isi, momen, pengunggah, dan trofi–menggumpal sedemikian sempurna, mengingatkan saya pada adegan film-film laga ketika deru tenaga dalam seorang pendekar mampu membakar jantung lawan dari kejauhan hingga gosong, berdebu, musykil bisa disehatkan seperti semula.
Percampuran empat hal di atas meneguhkan anggapan khalayak tentang kurangnya sensitivitas polisi dalam sejumlah kerjanya belakangan ini. Itulah yang selanjutnya dipandang sebagai penyebab munculnya langkah-langkah penegakan hukum yang diskriminatif dan melukai hati kalangan masyarakat tertentu.
Anggapan sedemikian rupa seakan kian terbukti ketika dibandingkan dengan perilaku Tentara Nasional Indonesia (TNI). Kegiatan kehumasan TNI, baik yang dilisankan oleh pejabat terasnya maupun dipublikkan lewat akun media sosialnya, benar-benar kontras dengan kodrat tentara selaku petarung yang diprogram untuk berpikir dan bekerja dengan azas “bunuh atau terbunuh”.
Saya melihat keelokan tindak-tanduk TNI itu sebagai pancaran ketulusan hati institusi tersebut. Sebagian pengamat memandangnya sebagai siasat belaka. Apa pun itu, murni dari hatikah atau pun hanya strategikah, TNI dinilai banyak kalangan dewasa ini lebih lihai merebut hati publik. TNI dirasa lebih menenteramkan dan masyarakat merasa lebih diayomi.
Sekalipun perilaku simpatik TNI diasumsikan sebagai siasat, sesungguhnya tidak ada yang salah dengan itu. Serupa dengan unit humas Polri, unit-unit semacam itu diadakan tentu untuk mendesain sekaligus mengimplementasikan pendekatan-pendekatan kehumasan agar pada gilirannya bisa mendukung kerja organisasi. Bahkan dengan asumsi semacam itu, kompetisi menjadi kian menarik untuk dicermati: strategi kehumasan manakah yang lebih efektif, Polri atau TNI?
Ini jelas merupakan fenomena istimewa: “mesin perang” justru dipersepsi lebih matang membawa diri di tengah kompleksitas sosial serta lebih menghayati dimensi kemanusiaan, sedangkan “sahabat masyarakat” justru dirasa seolah tengah mengalami penumpulan kepekaan.
Segelintir personel polisi yang saya ajak bertukar pikiran berpendapat bahwa, bagi mereka, yang terpenting adalah bekerja seprofesional mungkin. Popularitas bukan sesuatu yang mereka cari. Sepintas lalu, prinsip tersebut sangat mulia. Namun ketika dikaji ulang, baru diinsafi bahwa bagi polisi mengesampingkan urgensi “merebut simpati khalayak” bisa berisiko fatal.
Runyamnya keadaan setelah Polri mempublikkan film “Kau adalah Aku yang Lain” merupakan kenyataan bahwa institusi kepolisian telah terperosok ke situasi yang paling kritis. Disebut paling kritis, karena amunisi utama polisi sesungguhnya adalah kepercayaan masyarakat. Bukan senjata api, teknologi canggih untuk melacak penjahat, maupun keterampilan bela diri. Apesnya, kepercayaan itulah yang saat ini terkesan sedang diunggis bahkan oleh institusi kepolisian sendiri. Spesifik, situasi sengkarut ini meninggalkan pekerjaan rumah nan berat bagi Polri untuk menata strategi kehumasannya.
Memang, ada kiasan bahwa polisi merupakan bayang-bayang masyarakat. Kalau cara pandang polisi dianggap bias, maka bias itu pula yang sesungguhnya menjangkiti publik. Andai polisi dinilai tebang pilih dalam kerja penegakan hukum, maka sikap diskriminatif itu juga yang sejatinya mewabah di khalayak. Pun, jika pendekatan komunikasi polisi dikatakan buruk, maka tata pergaulan masyarakat pun sebenarnya centang-perenang. Persoalannya, jika melulu mengacu pada kiasan di atas, sampai kapan polisi dan masyarakat akan terus mengambing-hitamkan satu sama lain?
Untuk mengatasinya, polisi kudu mempraktekkan ungkapan bahwa polisi adalah agen perubahan sosial. Polisi harus proaktif. Tanpa menunggu masyarakat berubah, polisi sudah harus betul-betul lebih awal mengendapkan kesantunan–berarti tindak-tanduk di hadapan publik–sebagai agenda perubahan yang paling fundamental.
Kesantunan, manakala relasi polisi-masyarakat suram seperti sekarang, sepatutnya mewujud dalam bentuk kerendahan hati. Konkretnya, betapa luhurnya jika Polri meminta maaf kepada masyarakat luas, teristimewa kepada komunitas yang di dalam film “Kau adalah Aku yang Lain” telah difiksikan secara vulgar sebagai kaum penindas. Meminta maaf karena telah secara kurang arif mengabaikan empat hal yang ditulis terdahulu–isi, waktu, pengunggah, dan penghargaan–di balik keinginan untuk menyemikan sikap toleransi dan kebinekaan.
Allahu a’lam.

Tidak Tanggung-Tanggung...Motor-Motor Mewah Berharga Ratusan Juta Rupiah HABIS Dibakar TNI. Ada Apa Ya?


Benteng NKRI. Tak tanggung-tanggung, di antara sepeda motor yang dibakar tersebut ialah Yamaha R15 yang harganya dibanderol sekitar Rp 30 jutaan.

Selain menjaga keamanan negara, pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) juga sering ikut berperan mencegah maraknya barang selundupan yang masuk mau pun keluar negara. 

Salah satunya seperti yang dilakukan oleh aparat TNI di daerah penjagaan perbatasan Indonesia-Timor Leste ini. Maraknya barang selundupan yang hendak dipasok ke Timor Leste membuat pasukan TNI geram karena oknum pelaku tak ada kapoknya.
Menghadapi fenomena tersebut, personel TNI penjaga perbatasan Indonesia-Timor Leste akhirnya memutuskan membakar sederet sepeda motor baru yang cukup mahal, yang hendak diselundupkan ke Timor Leste. Tak tanggung-tanggung, di antara sepeda motor yang dibakar tersebut ialah Yamaha R15 yang harganya dibanderol sekitar Rp 30 jutaan.



Tentara Nasional Indonesia (TNI) Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Timur Yonif 725/WRG musnahkan 6 unit kendaraan sepeda motor selundupan pada Jumat (01/01/2016). Motor-motor ini merupakan barang selundupan yang digagalkan dalam triwulan pertama bertugas di daerah perbatasan. 

Adapun barang bukti penyelundupan tersebut antara lain 1 unit sepeda motor Yamaha R15, 4 unit Yamaha Vixion dan 1 unit Honda Beat.

Motor-motor keren tersebut merupakan barang selundupan Warga Negara Indonesia (WNI) yang tertangkap tangan ketika hendak dijual ke Timor Leste tanpa dokumen resmi. Timor Leste sendiri telah memisahkan diri dari Indonesia pada 20 Mei 2002, namun 90% kebutuhan dan perdagangannya masih sangat tergantung pasokan impor dari Indonesia. Setiap harinya kebutuhan masyarakat Timor Leste berlalu lalang di pos perlintasan perbatasan.
      
Proses pembakaran motor-motor sitaan tersebut pun disaksikan oleh jajaran kepolisian dan perwira satgas setempat. Langkah ini diambil karena TNI ingin membuat jera para pelaku penyelundupan barang ke Timor Leste. 

Dansatgas Pamtas RI-RDTL Yonif 725/WRG Mayor Inf.Nurman Syahreda menuturkan, mudahan-mudahan dengan melakukan kegiatan pemusnahan ini bisa menghasilkan efek jerah bagi segelintir orang yang melakukan kegiatan penyeludupan karena itu beresiko dan tidak melakukan lagi dimasa yang akan datang.

Berikut ini video pemusnahan motor tersebut yang diliput oleh Metro TV

Panitia: Sudahi Polemik Kau adalah Aku yang Lain


JAKARTA -- Panitia penyelenggara Festival Film Polisi 2017 ingin mengakhiri polemik film pendek berjudul Kau adalah Aku yang lain. Perdebatan mengenai film pendek tersebut membawa masyarakat ke arah yang kurang positif.
"Karena niatan kami tidak ada ke arah sana," ujar Ketua Panitia Festival Film Polisi 2017 Ajun Komisaris Ardilla Amry ketika dihubungi Republika, Jumat (30/6).
Penyelenggaraan festival, termasuk pemilihan pemenang, tidak pernah ditujukan untuk memunculkan kontroversi. Apalagi memojokkan umat Islam. Penyelenggara memilih tema 'Unity in Diversity' karena tema itu sedang menjadi isu penting sekarang ini.
Ardilla menambahkan panitia sebagai penyelenggara program tahunan Mabes Polri ini berusaha melakukan tugas dengan sebaik-baiknya. Namun, panitia tidak turut memilih pemenang.
Panitia menyerahkan proses penjurian kepada orang-orang profesional. "Kami penyelenggara. Namun penjuriannya itu tersendiri, terdapat enam juri," kata Ardilla.
Ardilla pun enggan memberikan penjelasan detail mengenai penyelenggaraan Festival Film Polisi 2017. Menurut dia penjelasan terkait film ini diutarakan oleh Humas Mabes Polri.
"Untuk sekarang memang kami tidak ingin ini menjadi berkepanjangan dan menjadi polemik baru," kata Ardilla.
Pada ajang Festival Film Polisi 2017, film berjudul Kau adalah Aku yang lain menjadi pemenang. Film garapan Anto Galon dan produser Ajun Komisaris Edigio Fernando ini mengangkat isu toleransi beragama di masyarakat, khususnya umat Islam.
Sayangnya, film yang kemudian diunggah oleh Humas Mabes Polri ke media sosial sehari sebelum Idul Fitri 24 Juni lalu langsung menuai polemik. Berbagai pihak mengecam cerita yang dinilai menyudutkan umat Islam di tengah suasana Idul Fitri tersebut.
Mabes Polri sudah menjelaskan proses penjurian festival ini dilakukan secara profesional. Kepolisian juga sudah menyampaikan permohonan maaf dari Anto Galon selaku sutradara karena pesan film ini tidak sampai seluruhnya.